love ipb
IPB Badge
IPB (Institute perancang Blog)
IPB Badge IPB Badge

Note : 21 September 2011


Dear Diary…
Terkadang aku membenci kehidupan
Semua logika yang tak terpakai
Hanya terbuang lewat kata semata
Aku benci kemiskinan
Yang hanya bisa menghancurkan semua angan dalam kehidupan
Padahal semua harapan masih jelas harus dicapai
Dear Diary…
Tanganku tlah lesu berdiam diri
Ingin rasnya ku ungkap semua beban dihati
Sepertinya Aku tak lagi butuh cinta
Karena cinta hanya lukai hati semata
Sepertinya aku tak butuh kebersamaan
Hanya membuang waktu yang harus ditaruhkan untuk negeri yang tercinta
Kan ku pilih engkau wahai kekasih
Jika logika dan jalan fikiran kita sama
Aku ingin membangun negeri
Bersamamu yang siap mati
Jangan pernah kau pungkiri jika kau memang tak mampu tuk hadapi
Aku seperti mati rasa yang selalu tak pernah merasakan bagaimana hatimu yang sesungguhnya
Maka ku biarkan kau bebas sebebas hidupmu
Jalanmu masih panjang
Jangan kau pedulikan aku
Biarkan aku berkelana dengan hidupku untuk negeri
Bukan aku tak mencintaimu
Tapi kau terlalu ramah untuk mengenal diriku yang tak ramah
Bukan aku tak inginkan dirimu
Tapi sepertinya kita mempunyai jalan yang berbeda
Aku bukan seperti apa yang kau kenal
Aku bukan seperti apa yang kau inginkan
Seandainya visi dan misimu sama denganku
Maka Berfikirlah lebih jauh ke depan
Agar bahagia kan selalu kita kenang…

Rahasia Allah

Pada bulan mei, saat itu ada penyeleksian USMI. Aku ingin kuliah. Tapi aku ragu, saat itu perekonomian keluargaku sangatlah tak memungkinkan untuk membiayaiku  kuliah.  Biaya kuliah sangatlah mahal, tapi aku tetap mencobanya, meskipun ku tahu aku tak mungkin bisa tuk kuliah.

Saat itu, aku pinjam uang kepoada guru BKku untuk biaya daftar USMI. Guru BKku yang menyemangati kami untuk selalu mencoba, karena kita harus yakin bahwa tak ada yang tak mungkin bila Allah yang menghendaki. Akhirnya, ku mencoba mengilkuti seleksi USMI dengan niatan karena Allah, karena aku ingin terus mencari ilmu karena-Nya. Dan Allhandulillah, pengumuman USMI akhirnya datang juga. Ada tujuh orang yang diterima, dan salah satunya adalah aku. Selain itu kabar yang paling membahagiakan adalah ketika Bapak Kepala Sekolah mengungkapkan bahwa ada empat orang siswa yang terpilih sebagai calon penerima beasiswa Bidik Misi, dan ternyata salah satu diantara empat orang itu adalah aku juga. Subhanallah… aku sangat bersyukur.

Setelah kami menerima lembaran-lembaran dari IPB yang di berikan oleh Bapak Kepsek. Kami semua pergi ke kelas masing-masing. Sedang aku, ingin sekali aku beranjak pergi ke musola. Rasanya aku rindu dengan Allah, ingin sekali ku menangis di dalam sujudku dan ungkapkan rasa syukur yang sudah menggebu ini dan berharap aku terpilih sebagai penerima beasiswa Bidik Misi itu.

Dua bulan tlah berlalu, aku dan teman-temanku masih menunggu dan menunggu pengumuman beasiswa itu. Akhirnya, hari itupun tiba. Dan ternyata, subhanallah kita semua mendapatkan beasiswa itu. Kita berempat berlari pergi ke lapangan tanpa kata kita langsung sujud syukur dibawah kibaran bendera merah putih. Subhananallah…. Ku ucapakan puji syukur kehadirat-Nya tanpa henti. Ternyata, kita harus selalu berusaha mencoba meskipun kita tahu itu takkan mungkin, tapi kita harus yakin bahwa yang menentukkan semuanya adalah Allah SWT. Dan tak ada yang tak mungkin bila Allah yang menghendaki.

( Sapaan sayang Allah untukku )

Nama :Rika Mutmainah

Nrp      : I34100095

Laskar 28

“Cha… bangun cha…!!!!” suara lembut itu membangunkanku.

“ iya As, bentar lagi masih ngantuk..” sahutku dengan nada malas.

“mau sahur gak? Ayo bangun bentar lagi imsak loe???” nada itu makin mengeras ditelingaku.

“ iya… iyaa… !! hmmm…. Makasih ya sudah ngebangunin hehe…!!!”

Akhirnya aku bangun dengan suasana yang agak malas, aku beranjak dari tempat tidur memaksakan diriku untuk bangun dan melawan rasa kantuk itu. Aku pergi ke kamar mandi, cuci muka dan mengambil air wudhu, rasanya segar sekali. Setelah ku kembali ke kamar, As mengajakku membeli makanan ke paguyuban. Tapi, rasanya aku malas, aku fakir lebih baik ku makan sahur dengan mie saja. Dan Aspun berlalu dengan fitri.

Tinggalah aku sendiri di kamar, aku mengetuk pintu tetangga dan meminjam hitternya Qiqin. Ku bawa hitter itu ke kamarku dan mengisinya dengan air yang hanya cukup untuk satu mie. Setelah itu, ku hubungkan dengan listrik dan sambil menunggunya maka ku akan pergi shalat tahajud dulu.

Tak lama kemudin terdengarlah suara DOOAAARRRRRR!!!!!!

Hitter itu meledak, itu membuat tetangga-tetangaku ke kamar. Sedang aku sangat shock. Jantungku berdebar keras. Dan seketika itu pula lampu di kamarku menjadi gelap. Dan ternyata bukan kamarku saja yang mati lampu, tetapi juga empat kamar lainnya. Mereka semua bertanya padaku, kenapa?

Beberapa menit kemudian As dan Fitri datang, mereka bertanya kenapa lampunya mati. ‘duhc… semakin mereka menanyakan kenapa padaku, aku jadi semakin merasa bersalah’. Dan akhirnya, aku menjelaskan kepada mereka semua bahwa hitter itu meledak dan menyebabakan listrik jadi padam, untungnya mereka semua mengerti. Aku tahu, mungkin ada diantara mereka yang mungkin kesal atau jengkel.Karena aku, lampu-lampu di kamar mereka jadi mati. Dan hal itu mereka tunjukkan pada raut wajah mereka.

“ ya udahlah cha, mungkin Allah tak mengijinkan kamu makan sahur dengan mie, lagiankan makan sahur dengtan mie tidak baik?” begitu kata As.

Aku tidak berkata apapun selain mengaguk. Lalu, As mengajakku makan sahur bareng dia. Tapi, aku merasa tidak lapar dan yang ku fikirkan saat ini adalah bagaimana caranya supaya lampu di kamar ini juga kamar-kamar yang lainnya bisa hidup kembali. Dan As  tetap memaksaku agar aku makan walau hanya sedikit saja, dan aku tak bisa menolak lagi.

Setelah kejadian ini aku baru sadar, ternyata melanggar aturan itu tidak baik. Nyatanya, Asrama melarang membawa barang-barang seperti itu, tapi kita sebagai penghuni masih saja bandel, dan akhirnya hitter itu meledak. Selain itu, aku merasa Allah telah menegurku bahwa menunda-nunda suatu pekerjaan itu tidak baik, nyatanya semalam aku  sudah berniat mau ngaji tapi aku tunda sampai besok subuh, dan ternyata subuh aku tidak bisa ngaji karena mati lampu. Allah memang selalu mempunyai rencana lain. Alhamdulillah dengan kejadian ini aku bisa memetik hikmah yang sangat berarti.